
ILMU FALAK PADA PERKEMBANGAN AWAL DI TANAH AIR
Sejak adanya penanggalan hindu dan penanggalan islam di Indonesia, khususnya di pulau jawa, serta adanya perpaduan penanggalan tersebut menjadi penanggalan jawa islam oleh Sultan Agung, sebenarnya bangsa Indonesia sudah mengenal Ilmu Falak.
Seiring dengan telah kembalinya para ulama muda ke indonesia dari bermukim di Makkah, ilmu falak mulai tumbuh dan berkembang di tanah air. Mereka tidak hanya membawa catatan –catatan ilmu tentang tafsir, fikih, hadis, tauhid dan tasawuf, melainkan juga membawa catatan – catatan ilmu falak yang mereka dapatkan sewaktu belajar di sana. Kemudian meraka ajarkan kepada para santrinya di Indonesia.
Syekh Abdurrahman bin Ahmad al – Misri Pada tahun ( 1314 H / 1898 M ) datang ke Betawi, beliau membawa Zaij ( tabel astronomi ) ( w. 1420 H ) dan mengajarkan kepada ulama muda di Indonesia saat itu.
Di antara para ulama Indonesia yang belajar kepadanya adalah:
Ahmad Dahlan sa – Simarani atau at – Tarmasi ( w. 1911 M ), Beliau berasal dari Semarang, kemudian bertempat tinggal di Termas ( Pacitan jawa timur ). Beliau adalah gurunya Kh. Ahmad Dahlan Pendiri Muhammadiah.
Habib Usman bin Abdilah bin ‘Aqil bin Yahya ( menantunya Syekh Abdurrahman bin Ahmad al – Misri sendiri ) yang di kenal dengan julukan Mufti betawi
Apa yang di peroleh dari Syekh Abdurrahman, kemudian mereka ajarkan kepada para muridnya masing – masing, Ahmad Dahlan mengajarkan di daerah Termas Pacitan dengan menyusun buku ilmu falak berjudul “Tadzkiratul Ikhwan fi ba’dli Tawarikhi wal ‘amalil Falakiyah bi Semarang” yang naskahnya selesai di tulis 21 September 1903 M. Dan BULUGHUL WATHOR yang selesai di tulis pada 17 Dzul Qo’dah 1320 H/ 15 Februari 1903 M. (lihat BULUGHUL WATHOR hal 9)
Sedangkan Habib Usman mengajarkan ilmu Falak di daerah Jakarta, dengan menyusun buku yang berjudul “Iqadzun Niyam fi Mayata ‘alaqahu bil ahillah was Shiyam” yang di cetak tahun 1903 M oleh percetakan al Mubarak Betawi.
Ilmu falak yang di ajarkan oleh Habib Usman kemudian di bukukan oleh muridnya yang bernama Muhammad Mansur bin Abdul Hamid Dumairi al – Batawi dalam kitab yang berjudul “Sullumun Nayyirain fi Ma’rifati Ijtima’i wal Kusufain” yang pertama kali di cetak tahun 1925 M oleh percetakan Borobudur,batavia yang sekarang disebut sebagai HISAB TAQRIBI
Adapun kitab – kitab yang mempunyai karakteristik yang sama dari hisab Taqribi adalah :
AL QAWA’ID AL FALAKIYAH karya Abd al Fattah al Thuhi al Mishr
RISALATUL QOMAROIN, karya KH. Muhammad Yunus Abdulloh Kediri
FATKHURROUF AL MANAN, karya Abu Hamdan bin Abd al Jalil bin Abd al Hamid al Qudusy
SYAMSUL HILAL, karya KH. Noor Ahmad SS Jepara
PATI KIRAAN karya Thahir Djamaluddin sumatra
ALMANAK JAMILIYAH, karya Djamil Djambek Sumatra
dll
Buku – buku ilmu falak tesebut, pada umumnya menggunakan tabel astronomi Ulugh bek as – Samarkandi, serta perhitungannya tidak menggunakan ilmu ukur segitiga bola, melainkan perhitungan biasa, yakni penambahan (+), pengurangan(-), pertkalian (x), pembagian(:).
Demikian pula ketika menghitung ketinggian (irtifa’) hilal, digunakan cara yang sederhana pula, yaitu waktu terbenam matahari rata rata dikurangi waktu ijtima’ kemudian di bagi dua, atau di kalikan 30 menit, tidak memperhitungkan kemiringan ekliptika dan lintang tempat
Memperhatikan hasil perhitungan irtifa’ul hilal yang diperolehnya sering berbeda dengan kenyataan di lapangan. Oleh sebab itulah, para ahli hisab dewasa ini mengklasifikasikan sistim hisab semacam ini sebagai sistim hisab Hakiki taqribi. Karena hasil perhitungan yang di lakukan menunjukkan tingkat kurang lebih (perkiran).
Sementara itu di wilayah Jawa Timur ada seorang tokoh kunci Perkembangan ilmu falak di Indonesia. Beliau adalah Syaikh Asy’ari dari Pasuruan, sebelumnya beliau memperdalam ilmu agama dan sempat mengajar di Makkah.
Suatu ketika beliau meramalkan akan kemenangan pemberontakan Saud di Makkah. Ramalan beliau ini didengar oleh pemerintah yang berkuasa waktu itu. Sehingga beliaupun menjadi buron dan melarikan diri ke Mesir, sebelum kemudian kembali ke kampung halamannya di Ranggeh Pasuruan.
Kepulangan beliau ke Pasuruan disambut gembira oleh para ulama’, konon kabarnya KH. Ma’sum Bin Ali Jombang, KH. Yunus Abdulloh Kediri, KH Abd Jalil Kudus juga berguru ilmu falak kepadaya. (lihat cofer kitab Nataij muntahal akwal terbitan PCNU Pasuruan). Kitab Nataij muntahal akwal inilah yang termasuk katagori HISAB TAHQIQI.
Ditengah – tengah mulai lunturnya kepercayaan masyarakat terhadap hasil hisab kitab – kitab klasik , penulis berusaha mengemas supaya kitab – kitab falak klasik mampu mengimbangi hasil dari sistim hisab kontemporer. Agar penggemar falak bergairah untuk mempelajari kitab – kitab falak klasik.
Adapun kitab – kitab yang mempunyai karakteristik yang sama adalah :
NATAIJ MUNTAHAL AKWAL oleh Syaikh Ahmad Asy’ari Pasuruan, yang selesai di tulis pada 18 Dzul Qo’dah 1324 H/ 3januari 1907 M . (lihat Nataij muntahal akwal terbitan PCNU Pasuruan hal 26)
TAGRIBUL MAQSAD FI AMALI BIR RUBU’IL MUJAYYABI karya Syekh Muhammad Muhtar bin Atarid al – Bogori. Diterbitkan pada hari kamis,10 Sya’ban 1308 H/ 26 juni 1913 M. (lihat Ilmu Falak dalam teori dan praktek oleh Muhyidin Khazin hal 32)
MANAHIJIL HAMIDIYAH Oleh Syaikh Abdul Hamid Mursy, yang selesai di tulis pada 15 sya”ban 1323/ 10 Maret 1925 M. (lihat Manahijil Hamidiyah hal 61).
TASHILUL MITSAL WAL AKWAL oleh KH. Muhammad Yunus Abdulloh Kediri yang selesai di tulis pada hari jumat, 22 Ramadhan 1353 H / 28 Desember 1934 M . (lihat TASHILUL MITSAL WAL AKWAL hal 24)
BADI’ATUL MITSAL WAL AKWAL oleh KH Ma'sum Ali Jombang
AL – KHULASHAH AL – B WAFIYAH oleh KH. Zubair Umar a – Jailani Salatiga
HISAB URFI & HAKIKI oleh KR. Muhammad Wardan Jogjakarta, yang selesai di tulis pada 15 Robi’ul Akhir 1377H/ 18 Nofember 1957
NURUL ANWAR oleh KH. Noor Ahmad SS Jepara, yang selesai ditulis 10 Rob. Tsani 1400 H/ 12 Desember 1986 M.
dll
Dari semua kitab-kitab Tahqiqi di atas pada umumnya jadwal astronomi yang di pakai adalah mengambil dari buku “Al – Matla’us Sa’id fi Hisabil Kawakib ‘ala Rashdil Jadid” karya Syekh Husain Zaid (Mesir) dan”az-Zij al-Jadid” karya Ibnu Syatir.
Ketika menghitung ketinggian hilal, sistim ini menggunakan ilmu ukur segitiga bola dan penyelesaiannya menggunakan daftar logaritma selain juga memperhitungkan kemiringan ekliptika dan lintang tempat. Maka, hasil yang di perolehnya cukup akurat, meskipun masih perlu di sempurnakan.
Berpijak dari referensi di atas, penulis Cuma berani mengupas dan memodifikasi kitab “Tashilul Mitsal” karya KH. Yunus Abdulloh saja, dikarenakan terbentur oleh perizinan. Namun begitu karena kitab – kitab tersebut mempunyai karakteristik dan tabel yang relative sama sehingga mempunyai hasil akhir yang relative sama.
Sistim hisab “Tashilul Mitsal” inilah yang dimodifikasi sesuai dengan kaedah ilmu falak modern, namun tabel/jadwalnya tetap menggunakan sistim klasik/Hisab tashilul mitsal yang asli. Dahulu penyelesaiannya menggunakan Rubu’ mujayyab ataupun logaritma, sekarang diselesaikan nenggunakan kalkulator ataupun komputer.
Dikarenakan perhitungan awal bulan hijriah melibatkan awal waktu shalat, khususnya awal waktu maghrib, sekalian waktu-waktu sholat yang lain, arah kiblat dan bayang-bayang kiblat dibahas dalam kitab ini pada halaman belakang.
Dengan menggunakan Kitab “Tashilul Mitsal” Yang sudah di modifikasi ini, menghasilkan tingkat keakurasian sangat tinggi, hasil akhirnya sebanding dengan sistim Ephymeris, Nautika atau hisab kontemporer yang lain. Bahkan dengan menggunakan Program Calculator, pengerjaan sistim ini Lebih mudah apalagi kalau menggunakan Proggram Computer, bisa diselesaikan dalam waktu 1 menit.
Selanjutnya, trimakasih disampaikan kepada:
Abah H. MAHBUB YUNUS dan ibu SITI CHOTIDJAH (Alm) dan saudara – saudara lain, yang telah memberi wejangan tentang “Arti hidup dan kehidupan”
Drs. KH. A. GHAZALI MASROERI dan staf LF PBNU yang telah memberi wewenang kami sebagai “pelaksana ru’yah LF PBNU”
Drs. KH. ABD. SALAM NAWAWI, M.Ag. yang telah mengizinkan kami sebagai ”staf ahli hisab dan ru’yah LF PWNU Jawa Timur”
Mas Drs. KH. ABD. ADHIM dan Mas K. REZA ZAKARIA ( MBAH JO ) dan saudara – saudara lain, yang telah memberi wejangan kami tentang “Arti hidup dan kehidupan, juga Ilmu falak”
KH. MAHFOED RIFA’I B.Sc. dan seluruh teman – teman staf ahli falak PC LF NU KAB. BLITAR. Yang telah memberi dukungan moral maupun matrial hingga terwujudnya kitab ini.
Dengan telah selesainya buku ini, kami mengharap kepada segenap pecinta ilmu hisab, para pembaca, untuk memberikan sumbang saran dan kritik, demi lebih sempurnanya buku ini. Mudah – mudahan bermanfaat bagi kita semua, sehingga pertolongan, hidayah dan ridloNya, terlimpah kepada kita semua. Amin.
OKTOBER, 2005
UZAL SYAHRUNA
Komentar
Posting Komentar