Rihlah Ilmiah Ilmu Falak dan Astronomi Islam UIN Mataram: Membaca Langit Dibaca Bumi
Rihlah Ilmiah Ilmu Falak dan Astronomi Islam UIN Mataram: Membaca Langit Dibaca Bumi
Mahasiswa/i program studi (prodi) Ilmu Falak dan Astronomi Islam (Ilfasto), Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram baru-baru ini melakukan rihlah ilmiah dalam rangka studi banding sekaligus studi tour ke beberapa tempat di pulau Jawa yang berkaitan dengan perfalakan dan Astronomi. Kegitan ini diinisiasi langsung oleh ketua jurusan (kajur) Ilmu Falak dan Astronomi Islam sendiri dibantu beberapa dosen pendamping. Barangkali kegitan studi banding ke luar dearah ini baru pertama kali diadakan oleh kampus yang baru saja beralih status dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) ini. Dan merupakan kebanggan tersendiri bagi keluarga besar prodi Ilfastro atas torehan sejarah ini.
Prodi ilmu Falak dan Astronomi Islam sendiri adalah program studi baru yang dibuka bersamaan dengan dua prodi lainnya di UIN Mataram, yaitu Perbankan Syariah di fakultas yang sama, yakni fakultas Syariah dan prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGRA) di fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan.
Berawal dari obsesi sang kajur, Muhammad Harfin Zuhdi, MA yang ingin membumikan ayat-ayat Allah yang terpeta di alam semesta untuk dibaca di bumi seribu masjid ini. Tak hanya itu, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk mengikhtiarkan langkah demi mensosilisasikan prodi Ilfastro kepada masyarakat, yang memang prodi ini notabenenya belum begitu familiar. Padahal sungguh pentingnya ilmu yang menentukan ibadah umat muslim ini. Terutama ibadah wajib, seperti shalat dan puasa Ramadhan.
Di antara tempat yang dikunjungi, pertama adalah UIN Walisono Semarang, Jawa Tengah. Dimana kampus ini dikenal sebagai pelopor pertama prodi falak di Indonesia. Bahkan menurut Dekan fakultas syariahnya, UIN Walisongo Semarang adalah kampus pertama yang membuka prodi ilmu falak di dunia. Rombongan sampai pada selasa malam setelah melalui perjalanan jauh menggunakan dua mode transortasi dari Pelabuhaan Lembar, Lombok Barat.
Di kampus ini, keluarga besar ilfastro banyak mendapat motivasi bagaimana langkah-langkah mengenalkan ilmu falak ke masyarakat. Tokoh falak kampus ini, KH. Selamat Hambali, misalnya. Beliau menuturkan bahwa beliau beserta pegiat falak lainnya, dalam mengenalkan falak ke masyarakat awam di Jawa, mengaku mendapat kesulitan. Untuk mensiasati kesulitan tersebut, beliau mengadakan roshdul qiblat keliling. Mengecek keakuratan qiblat di masjid-masjid. Meskipun terkadang ada masyarakat yang tidak menerima koreksian beliau bahwa arah kiblat masjid mereka melenceng. Hal demikian tak menyurutkan usaha beliau dan pegiat falak lainnya untuk terus mengembangkan ilmu falak. Dan tentunya, kegiatan semacam ini selalu dibarengi dengan memberikan pengetahuan falak ke dalam mindai masyarakat.
Fenomena alam, saat ketika matahari tepat berada di atas ka’bah, tak luput dari perhatian tokoh yang dikenal di dunia perfalakan Indonesia tersebut sebagai penemu alat yang hampir sama fungsinya dengan theodolit, yaitu alat yang dipergunakan untuk menentukan arah kiblat, yang beliau namakan sebagai Istiwa’ ‘Ain. Saat gerhana matahari dan bulan, penentuan 1 Ramadhan dan 1 Syawal adalah momentum yang sangat tepat bagi sang Kiyai untuk menambah wawasan kepada masyarakat yang terkait dengan falak melalui kegiatan-kegiatan yang mengikutsertakan mereka tentunya.
Setelah dari UIN Walisongo Semarang, kegiatan tour dilanjutkan ke Imah Noong, eduwisata yang terletak di Lembang, kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Sebuah wisata pendidikan yang dikelola oleh seorang jebolan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) di bidang Astronomi, yaitu Bapak Hendro Setyanto.
Dengan tubuh yang masih terasa letih, karena perjalanan yang cukup jauh dari Semarang, Jawa Tengah ke ujung barat pulau Jawa dan suhu yang cukup dingin di pagi Jum’at, 26 Agustus, rombongan diajak berkeliling, diperkenalkan dengan alat-alat Astronomi, seperti teleskop, teropong bintang, jam matahari, dan sebuah bangunan masjid sedehana yang oleh Bapak Hendro diberi nama masjid Planetarium. Sayangnya, bangunan planetarium tersebut belum rampung dikerjakan.
Penamaan Imah Noong sendiri, seperti yang diungkapkan Pak Hendro selaku pengelola, diambil dari bahasa Sunda, yang artinya rumah intip. Beliau ingin kata noong (baca: intip) tidak hanya dikaitkan pada hal-hal yang negatif, tetapi juga pada sesuatu yang maslahat. Melalui masjid planetarium, fenomena alam yang berhubungan dengan ibadah umat Islam akan diintip (baca: dipantau). Untuk kemudian dikaji di bumi. Oleh sebab itulah, Ifastro UIN Mataram mengusung jargon ‘Membaca Langit, Dibaca Bumi’.
Di hari yang sama, tour dilanjutkan ke Observatorium Bosscha, ITB, Bandung. Pada kesempatan itu, rombongan diajak sang instruktur memasuki sebuah bangunan yang dinamakan Kuvel. Dalam bangunan tersebut terdapat teropong raksasa buatan Jerman yang diberi nama Zeiss.
Bosscha, menurut sang instruktur adalah nama seorang penyandang utama dana proyek pembangunan Observatorium tersebut pada tahun 1923 dan selesai tahun 1928, artinya sebelum Indonesia merdeka. Mega proyek ini dimaksudkan untuk memajukan ilmu Astronomi Hindia-Belanda. Ini menunjukkan Ilmu Astronomi sudah berkembang sejak dulu.
Ada hal yang menarik ketika Pak Kajur menanyakan peran Observatorium Bosscha dengan kecanggihan alat yang dimilikinya terkait permasalahan hilal di Indonesia, yang setiap tahun selalu diwarnai perdebatan.
Sang instruktur menjelaskan, Booscha sebenarnya dapat melihat hilal saat siang hari di akhir bulan. Tidak perlu menunggu sampai tenggelamnya matahari. Masalahnya, selain hilal yang dipantau di Bosscha tidak memenuhi syarat hilal yang ditetapkan ulama, metode penentuan awal bulan yang digunakan juga berbeda.
Kunjungan ke Observatorium Bosscha adalah kegiatan terakhir yang diikuti mahasiswa/i Ilfastro UIN Mataram. Memanfaatkan tiga model transportasi, laut, darat, dan udara rombongan berkeliling pulau Jawa memperluas pendangan, memperbanyak pendengaran. Puncaknya, hari Sabtu malam, 27 Agustus, pesawat Lion Air yang lepas landas dari Bandara Internasinal Djuanda, Surabaya yang membawa rombongan peserta studi banding mendarat di Bandara Lombok Internasional Airport (LIA)…




Komentar
Posting Komentar